Inti gambar: cara membaca reaksi redoks dengan metode bilangan oksidasi (biloks) supaya nggak “ketuker peran”.
Gambar di atas membantu kita menganalisis reaksi redoks (reduksi–oksidasi) memakai metode bilangan oksidasi (biloks). Kuncinya sederhana: redoks terjadi jika ada unsur yang biloksnya berubah. Jadi, bukan soal “terlihat rumit”, tapi soal: ada perpindahan elektron atau tidak?
Bilangan oksidasi adalah angka “formal” untuk melacak kecenderungan suatu atom kehilangan atau menerima elektron dalam senyawa. Angka ini membantu kita melihat pola perubahan elektron tanpa harus menggambar elektron satu per satu. Dalam praktik SMA, biloks adalah “GPS” untuk menemukan siapa yang mengalami oksidasi dan reduksi.
• Biloks naik → terjadi oksidasi (seolah melepas e⁻)
• Biloks turun → terjadi reduksi (seolah menerima e⁻)
Nah, hubungan perannya begini (ini yang sering bikin siswa “kecele”): zat yang teroksidasi itu justru bertindak sebagai reduktor (dia “menyumbang” elektron), sedangkan zat yang tereduksi bertindak sebagai oksidator (dia “mengambil” elektron).
• Biloks naik = oksidasi → zatnya = reduktor
• Biloks turun = reduksi → zatnya = oksidator
Langkah aman mengerjakan soal redoks (metode biloks): tentukan biloks tiap unsur memakai aturan dasar, bandingkan biloks sebelum–sesudah reaksi, lalu simpulkan: unsur mana yang oksidasi dan mana yang reduksi. Cara ini membuat analisis redoks lebih “ilmiah” dan minim tebak-tebakan.
Pertanyaan reflektif: kalau dalam suatu reaksi tidak ada biloks yang berubah, apakah reaksi itu redoks? (Hint: tanpa perubahan biloks, biasanya itu bukan redoks—tidak ada perpindahan elektron.)